Dita's Diary Parenting

Belajar Bahasa Asing Sejak Dini, Perlukah?

Aku ingat, beberapa waktu lalu, di salah satu mal di Jakarta Selatan, aku dan keluarga menyempatkan untuk makan siang bersama. Pemandangan yang ada terlihat biasa saja. Agak ramai, namun masih kondusif seperti suasana makan siang pada umumnya. Kami pun makan dengan tenang.

Sampai pada suatu waktu, perhatianku teralih pada seorang ibu yang duduk sekitar dua meja dari samping. Sepertinya saat itu ia sedang makan siang bersama keluarga kecilnya. Sampai pada suatu ketika ia berbicara kepada anaknya dengan intonasi yang agak tinggi,”(nama anak), don’t do it!”. Sepertinya anaknya belum genap 2 tahun, tidak beda jauh dengan Attaya saat itu. Ia juga masih duduk di baby chair. Saat itu sedang memukul sendok dengan keras sehingga pengunjung lain terlihat terganggu.

Lalu, selang berapa menit kemudian ibu ini berbicara lagi dalam bahasa Indonesia campur bahasa Inggris. “No, no sayang, ga boleh berisik. Don’t do it.. give me!” Sambil mengulurkan tangannya. Sebetulnya masih ada kalimat-kalimat lain, tapi kurang jelas karena agak jauh. Kalau kata anak zaman now, Bahasa yang digunakan campur ala-ala anak Jaksel.

Ada juga beberapa kenalan yang berkewarganegaraan Indonesia, lahir dan besar di Indonesia, tapi malah tidak lancar berbahasa Indonesia karena terbiasa menggunakan bahasa Inggris sejak bayi. Karena hal tersebut, ia agak kesulitan ketika berkomunikasi dalam bahasa Indonesia juga ketika menerima pelajaran berbahasa Indonesia.

Berdasarkan kejadian tersebut, terlintas di kepalaku untuk menulis artikel ini. Ya, masih seputar pemerolehan bahasa anak. Topik yang sangat menarik perhatianku selama kuliah linguistik, apalagi setelah memiliki anak. Sebetulnya apa saja yang perlu diperhatikan ketika memperkenalkan bahasa asing pada anak?

Pertimbangkan aspek lingkungan

Pertanyaan yang sering diajukan adalah perlukah belajar dan menggunakan bahasa asing sejak dini? Jawabannya, bisa iya bisa tidak. Tergantung tujuannya. Tergantung pemakainya. Tergantung situasinya.

Penggunaan bahasa asing sejak dini, lebih baik kita terapkan dengan pertimbangan-pertimbangan yang matang. Kaitannya penggunaan bahasa ini, bahkan sejak bayi tidak hanya terkait pada aspek neurolinguistik dan psikolinguistik, tapi juga sosiolinguistiknya.

Kenali lingkungan terkecil anak. Apabila tinggal dan besar di lingkungan berbahasa Indonesia. Ayah dan Ibu berbahasa indonesia, alangkah baiknya jika dikenalkan dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar agar tidak menimbulkan kebingungan pada anak. Anak cenderung mengingat kosakata pertama yang ia dengar.

Berbeda halnya ketika seorang anak yang dibesarkan dari orang tua yang berbeda bahasa dan budaya. Sebagai contoh, seorang ibu asli Indonesia yang menikah dengan suami asli Prancis. Ibu bisa menggunakan bahasa Indonesia dan ayah bahasa Prancis secara konsisten. Jadi anak paham dan tau kapan switch bahasa ketika berkomunikasi. Anak pun mendapat pelafalan yang tepat.

Konsisten

Akan tetapi, kebanyakan yang terjadi adalah orang tua di Indonesia menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari dengan mencampuradukkan bahasa asing dengan tujuan agar anaknya bisa bahasa asing. Banyak orang tua berlomba-lomba menggunakan bahasa Inggris kepada anaknya, bahkan campur aduk dengan bahasa Indonesia. Ditambah dengan pelafalan yang kurang tepat akan menambah kebingungan pada anak. Tidak ada yang salah, selama yakin dengan pemerolehan bahasa pertamanya sudah cukup baik, bisa dilanjutkan dengan pembelajaran bahasa kedua.

Aku pribadi, selalu mencoba menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar kepada Attaya ketika berkomunikasi. Berusaha tidak mencampuradukkan dengan bahasa asing. Dilanjutkan pengenalan bahasa asing kemudian misalnya dengan buku dan kosakata. Namun, pekerjaan rumah bagi kita, orang tua di Indonesia pada umumnya adalah lingkungan, buku-buku dan hal-hal di sekitar yang sudah umum menggunakan bahasa Inggris. Hal ini juga menjadi pekerjaan rumah bagi kita untuk membuat buku-buku anak dan aktivitas berbahasa Indonesia yang berkualitas.

Tentukan waktu yang tepat untuk mengajarkan bahasa asing

Sebetulnya, tidak ada ketentuan pasti kapan waktu memperkenalkan bahasa asing kepada anak. Namun, alangkah lebih baik jika kita mengenalkan pada anak bahasa ibu terlebih dahulu. Jika sudah lancar berbicara bisa mempelajari bahasa asing kita dapat mengenalkan bahasa asing. Secara umum, anak usia 3 tahun sudah bisa diajarkan bahasa asing. Selain sudah lancar berbicara, anak dengan rentang usia tersebut masih dalam masa golden age 0-6 tahun sehingga pembelajaran maksimal dan bermanfaat di kemudian hari.

Dengan kata lain, in my humble opinion tidak ada istilah perlu atau tidak perlu dalam pengenalan bahasa asing pada anak. Waktu, tempat, kondisi, dan situasi yang tepatlah jawabannya karena keadaan tiap keluarga berbeda. Hal terpenting adalah tanamkan rasa bangga menggunakan bahasa Indonesia sejak dini dimulai dari kita sendiri tanpa menutup diri dengan mempelajari bahasa asing . Dengan harapan, sejauh apapun anak kita melangkah nanti, secerdas apa pun anak kita nanti, dan semahir apa pun bahasa asing yang dikuasai, semoga bahasa ibu, bahasa Indonesia yang tetap di hati.

4 thoughts on “Belajar Bahasa Asing Sejak Dini, Perlukah?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top