Parenting Reviews

Digital Parenting: Anakku, Internet, dan Gadget

Semakin meningkatnya kemajuan teknologi membuat banyak orang tidak bisa terlepas dari internet dan gadget. Kemudahan-kemudahan yang dirasakan dengan adanya internet dan gadget membuat siapapun merasa perlu untuk menggunakannya. Mulai dari membantu pekerjaan, mencari hiburan dengan bermain games atau nonton, bahkan ajang bersilaturahim di media sosial menjadi alasan orang-orang tidak bisa terlepas dari intenet dan gadget. Tidak hanya orang tua, banyak pula anak-anak ikut “tertular” dengan kebiasaan ini.

Keingintahuan saya lebih lanjut tentang dunia internet, gadget, dan kaitannya dengan bagaimana penggunaannya untuk anak-anak mendapat jawaban yang sangat baik di event #sisterberbicara #sisternetid yang diadakan pada hari Kamis, 28 Maret 2018 lalu. Sisternet merupakan CSR program powered by @xlaxiata_tbk, yaitu merupakan rumah digital bagi perempuan di indonesia untuk berbagi, peduli, dan mendapat inspirasi, sesuai dengan slogannya, yaitu share-care-inspire. Event ini mengusung tema “Digital Parenting: Anakku, Internet, dan gadget, tema yang sangat relevan dengan kehidupan saya sebagai ibu dari satu anak dan mungkin sebagian pembaca di sini. Sisternet @sisternetid, @siberkreasi, dan @kemenkominfo selaku penyelenggara acara ini mengundang para pakar di bidangnya sebagai pembicara. Ada Ibu Mariam F. Barata (Direktur Tata Kelola, Ditjen Aptika) yang membahas tentang upaya pemerintah dalam membatasi konten negatif, Ibu Widuri (Deputi Director ICT Watch) yang membahas tentang internet sehat untuk anak, dan Ibu Nuniek Tirta (M.A in Psychology Counseling) yang membahas cara mengatur pemakaian gadget anak. Ketiganya sangat relevan dengan kondisi yang ada saat ini.

Upaya pemerintah dalam membatasi konten negatif

Berdasarkan hasil riset, sekitar 56% atau 150 juta jiwa di Indonesia adalah penggunaan internet, 56% atau 150 juta juga aktif di sosial media. Melalui data ini dapat terlihat bahwa lebih dari setengah penduduk di Indonesia adalah pengguna internet aktif dan tentunya menggunakan gadget. Besarnya jumlah tersebut membuat penyebaran informasi sangat cepat, bahkan dikatakan bahwa kondisi saat ini merupaka era share bait bukan click bait. Dengan kondisi tersebut, kemungkinan konten negatif atau tersebarnya hoax akan sangat cepat. Tercatat pada bulan Maret 2019 sebanyak 380 isu hoax menyebar di dunia maya. Jumlah ini terus meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya, seiring dengan meningkatnya pengguna internet di Indonesia.

Data Pengguna Internet di Indonesia

Beberapa konten yang merugikan adalah cyber bulying (kekerasan dan pelecehan melalui internet), cyber fraud (informasi tidak benar di internet, hoax, penipuan transaksi online), porn (pornografi di internet, gambar-gambar bugil dan tidak senonoh, video asusila), cyber gambling (permainan judi berkedok games di media sosial), dan cyber stalking (penculikan dengan kenalan di media sosial). Konten-konten negatif ini seringkali meresahkan masyarakat karena jumlah yang cukup banyak dan tidak terkendali. Oleh karena itu, kemenkominfo juga memberikan solusi salah satunya dengan adanya jalur pengaduan konten jika ada konten yang dirasa meresahkan.

Konten Negatif di Internet

Jika kita menemukan adanya konten negatif atau meresahkan, saat ini kemenkominfo memiliki jalur pelaporan aduan konten negatif di antaranya melalui website aduankonten.id, nomor WA 081192224545, Twitter @aduankonten, Aplikasi Qlue, Instagram @misslambehoaks, atau layanan.kemenkominfo.go.id. Dengan melaporkan konten-konten hoax atau negatif ke layanan-layanan tersebut berarti kita juga berperan serta untuk mengurangi konten negatif di internet.

Jalur Pelaporan Aduan Konten

Internet sehat untuk anak

Selain efek negatif, penggunaan internet dan gadget tentu memiliki banyak sekali efek positif. Contoh sederhana yang dapat kita lihat kehidupan sehari-hari bahkan sangat relevan adalah kepraktisan dan kehematan waktu, misalnya dengan adanya aplikasi-aplikasi penyedia jasa online, mengirim email, mencari sumber informasi, memudahkan silaturahim dengan rekan melalui sosial media, bahkan menjadi ajang tempat belajar bagi pelajar karena saat ini disediakan aplikasi-aplikasi belajar online yang sangat menudahkan pembelajaran.

Berdasarkan riset yang telah dilakukan (internetsehat.id), motivasi terbesar anak-anak menggunakan internet adalah mencari informasi, terhubung dengan teman, dan untuk hiburan/game. Alasan-alasan ini adalah yang dikemukakan oleh anak-anak pra-remaja yang sudah mulai dikenalkan dengan gadget. Sebagian menjadikan gadget sebagai alat untuk membantu pelajaran di sekolah, sebagian lagi untuk me-release stres dengan bermain game atau nonton, terakhir untuk bermedia sosial dengan teman-temannya.

3 Motivasi Anak Mengakses Internet

Lalu, bagaimana dengan anak usia lain? waktu ideal penggunaan internet berdasarkan usia adalah sebagai berikut. Usia 0-1,5 tahun: hindari gadget, kecuali video call dengan keluarga. Usia 1,5-2 tahun: hanya program berkualitas tinggi dan perlu pendampingan. Usia 2-5 tahun: maksimal 1 jam per hari dengan pendampingan. Usia di atas 6 tahun: tentukan batas waktu yang konsisten dan jenis media yang digunakan dan diimbangi dengan kegiatan fisik.

Waktu Ideal Penggunaan Gadget Berdasarkan Usia

Berdasarkan waktu ideal di atas, untuk anak usia pra-remaja atau di atas 6 tahun yang sudah diberikan gadget perlu diperhatikan lebih lanjut. Terapkan rules, waktu pengunaan gadget, juga perlu dipasang parenting control atau aplikasi yang dapat memantau kegiatan anak berselancar di dunia maya. Dengan begitu, orangtua tetap bisa mengawasi anak ketika memegang gadget.

Aplikasi Parental Control

Cara mengatur pemakaian gadget anak

Sebelum mengatur pemakaian gadget pada anak, khususnya pra-remaja, kita perlu mengetahui “why” terlebih dahulu, setelah itu baru “how”nya. Alasan-alasan kenapa orangtua perlu memberikan gadget, kenapa perlu menggunakan gadget, dan sederet pertanyaan lain yang terlintas di kepala kita sebagai orangtua perlu diketahui dulu, sebelum menentukan bagaimana caranya.

Berdasarkan why dan how tersebut, diperlukan teknik-teknik khusus untuk menghadapi anak-anak usia pra-remaja yang sudah diberikan gadget. Anak-usia tersebut biasanya memiliki kemauan yang besar, memiliki jalan pemikiran sendiri, dll. Pengenalan tipe anak sangat diperlukan sebelum orangtua menerapkan rules.

Bagi orangtua dengan anak pra-remaja, diharapkan dapat menjadi controller dan coach dari anak. Jadi orangtua hanya mengawasi anak, namun tidak terjun langsung ke “dunia” mereka. Jika diibaratkan peran orangtua di sini sebagai coach dalam pertandingan. Tidak masuk ke dalam arena, hanya mengawasi di pinggir lapangan, memberi arahan, masukan, dan saran untuk pemain. Begitu juga dengan orangtua, kita diharapkan dapat berperan sebagai pengawas, pemberi saran, penasihat, untuk anak-anak kita.

Terdapat dua tipe anak, yaitu “pleasure” dan “pain”. Anak tipe pleasure akan sangat termotivasi jika mendapat kesenangan terlebih dahulu. Cara efektif untuk menghadapi anak tipe seperti ini adalah dengan memberikan reward. Orangtua dapat memberitahukan reward di awal sebelum menerapkan rules. Reward yang diberikan ini akan membuat anak termotivasi untuk melakukan sesuatu. Sebaliknya, anak tipe pain adalah anak-anak yang cenderung menghindari kesusahan. Mereka biasanya akan melakukan kewajiban-kewajiban terlebih dulu baru hak. Anak tipe seperti ini akan sangat efektif jika diberitahukan konsekuensi apa yang akan didapat. Berbeda dengan punishment, consequence adalah hal-hal yang akan terjadi pada dirinya jika tidak melakukan kewajiban, sedangkan punishment adalah hukuman.

Tipe Anak Pleasure dan Pain

Dengan mengatahui ulasan-ulasan tentang digital parenting di atas, sebagai orangtua setidaknya kita sudah memiliki “pegangan” sebelum memutuskan untuk memberikan gadget untuk anak kita. Pegangan tersebut bisa dikaitkan dengan usia, kebutuhan, rules di keluarga dll. Keputusan berada di tangan kita sebagai orang tua untuk menggunakan internet dan gadget dengan bijak, khususnya untuk anak-anak kita.

5 thoughts on “Digital Parenting: Anakku, Internet, dan Gadget

    1. Sama-sama Mba. Berdasarkan penjelasan narasumber di event tersebut yang saya ingat, cara komunikasi ke anak yang tipe pain ini cukup diberitahu atau diingatkan konsekuensinya jika kewajibannya tidak dilakukan, contoh sederhananya “kalau kamu bangun siang ya nanti terlambat sekolah”, dll. Jadi tidak perlu diberi punishment karena biasanya anak tipe pain justru lebih mudah karena cenderung menyelesaikan kewajibannya terlebih dahulu. FYI, kalau mau tau lebih lanjut bisa ke IG narasumbernya, ibu @nuniektirta. Beliau open sekali 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top