Pregnancy

Gonta-ganti DSOG, boleh gak sih?

Hai! Sesuai judulnya, ini merupakan pertanyaan aku ketika hamil Atta kemarin. Memang dasar suka galau dan labil, sampai DSOG (dokter spesialis obgyn) pun ganti-ganti sampai dapet yang cocok!  Haha. Bahkan gonta ganti RS juga. Sampai akhirnya aku menemukan dokter yang benar-benar cocok.

Mencari dokter yang cocok untuk konsultasi kehamilan memang susah-susah gampang ya (berasa cari jodoh! Haha). Karena kita akan ketemu dokter ini tiap bulan, mantau kesehatan kehamilan dan janin, apalagi untuk ibu yang baru punya anak pertama kayak aku,  pasti banyak banget yang mau ditanyain.

Ketika kehamilan kemarin, aku sempat ganti 3 RS 1 klinik dan 5 dokter! Sekitar Jaksel – Jagakarsa (dasar labil! :p). Karena tiap aku merasa ada yang ga sreg, aku mau konsultasi ke dokter lain sebagai second opinion, sampai benar-benar ketemu yang cocok. Sebenarnya masalah ini agak subjektif ya karena kecocokan dan masalah tiap ibu hamil itu berbeda dan banyak pertimbangan, misal biaya, asuransi, BPJS, dll.

Sedikit cerita dari aku. Pertama kali tau hamil aku cek kehamilan di RS Bunda Margonda. Kesan pertama RS ini pelayanannya cukup bagus, fasilitas sangat lengkap, staf ramah, dokternya pun banyak, tapi sayang saat itu RS sedang direnovasi tapi ini bukan masalah.

Pertama kali cek di sana aku ketemu dengan dr. Dian, SpOG.  Dokter ini juga rekomendasi dari kakak dan salah satu teman yang melahirkan dengan beliau. Kesan pertama bertemu orangnya cantik, masih muda, dan ramah. Karena waktu itu kali pertama aku cek kehamilan, belum banyak pertanyaan yang aku ajukan. Aku cuma tanya, yang ga boleh dimakan apa aja, Dok? (Duh pertanyaan klasik dan ga penting banget ga sih? Haha)  dr. Dian cuma jawab dengan santai “makan apa aja boleh, kecuali alkohol sama dikurangi aja caffeinenya” dalam hati aku, duh enak nih bu dokternya santai tapi tetap detail (ketika jelasin hasil USG).

Bulan selanjutnya, aku coba cek di RS Andhika Jagakarsa karena dekat dari rumah, selain itu dr. Dian juga ternyata praktik di sini. Tapi sayang, pas ke sana beliau lagi ga praktik, jadilah konsultasi dengan dr. Tagor, SpOG.

Kondisi pada saat itu aku ada flek sedikit, jadi agak panik. Bener-bener takut kenapa-kenapa dengan janinku. Pas konsultasi dengan dr. Tagor, dia bilang gapapa, nanti juga hilang fleknya. Beliau juga tidak meresepkan obat apapun. Tapi menurutku pertanyaanku belum terjawab kenapa sebabnya. Jadi masih banyak tanda tanya di kepala.

Belum ada sebulan, aku mulai keluar flek lagi, karena panik aku balik lagi cek ke RS Bunda Margonda (dasar galau! Hehe). Karena dr. Dian sedang cuti, akhirnya aku coba cek dengan dr. Mira SpOG. Oh iya, FYI dr. Mira ini dokter spesialis Morula juga. Di sini aku dicek USG transvaginal supaya lebih terlihat. dr.Mira juga mulai menjelaskan panjang lebar tentang flek yang aku alami, penyebabnya bisa macam-macam. Tapi dari kasus aku, alhamdulillah ga bahaya, mungkin hanya kecapekan aja dan perlu bedrest selama 3-7 hari. Setelah 1 minggu, kalau lebih banyak fleknya disuruh untuk cek lagi. Kalau tidak, berarti Ok. Aku juga diresepkan beberapa beberapa obat. Alhamdulillah setelah itu flek tidak keluar lagi. Pada saat itu biaya yang dikeluarkan sekitar 1,5 juta sekali konsultasi dan tebus obat (buatku sih lumayan mahal ya). Akhirnya bulan selanjutnya aku dan suami memutuskan cari RS lain dan dokter lain yang lebih terjangkau hehe (hemat, beb!).

Setelah cari-cari info ke teman, googling, aku menemukan satu nama dokter senior yang katanya oke, yaitu dr. Winur SpOG. Beliau praktik di RS YPK Menteng dan RS Aulia. Kebetulan, RS Aulia dekat banget dari rumahku. Tapi sayang, untuk konsul ke dr. Winur antrinyaa puanjanggg banget kayak kereta. Haha. Untuk dapat jadwal juga harus daftar 2 minggu sebelumnya. Karena penasaran se-oke apa dokter ini, ga apa apa deh dibela-belain antri dan nunggu 2 minggu.

Tetapi bener deh, konsultasi sama beliau puas banget. Bener-bener detail dan lama. Beliau juga selalu resepin obat kalsium, asam folat, dan DHA dan semuanya herbal. Akupun cocok dengan obatnya. Karena setelah 12 minggu – 36 minggu tidak ada keluhan yang berarti. Sampai akhirnya aku terus konsisten konsultasi dengan beliau sampai usia kehamilan 36 minggu. Rela deh antri!

Loh, terus kenapa akhirnya lahiran ga di sana dan ga sama beliau? Sebenernya ini karena faktor aku pribadi aja sih ga ada hubungannya sama sekali dengan dokternya. Aku pengen banget lahiran dengan suasana yang nyaman, ga rame, apalagi ngebayangin nanti udah mules-mules tapi dokternya sibuk atau nunggu lama karena sedang menindak pasien lain (duh udah parno aja ya haha). Tapi emang bener sih, kecemasan seperti itu untuk aku pengaruh banget. Aku gak mau nanti saat lahiran itu terjadi, yah walaupun belum tentu, mencegah kan lebih baik ya.

Setelah cari tau lebih banyak tempat melahirkan yang nyaman dan dokter/bidan yang banyak direkomendasikan, akhirnya aku coba cek ke klinik BWCC Jagakarsa (duh jadi berasa mengkhianati dr. Winur setelah sekian lama konsul dengan beliau) Klinik ini baru dibuka awal 2017 lalu, pusatnya ada di klinik BWCC Bintaro. Pertama kali ke klinik ini, aku bener-bener merasa cocok.  Stafnya ramah, suasananya homey banget (walau agak sempit) dan ga terasa kalau itu klinik. Kalaupun melahirkan di sini, pasti nyaman banget. Aku cek pertama kali ke sana dengan dr. Dini Utari, SpOG. Beliau komunikatif dan ramah juga. Ternyata, di sini dr. Dian juga praktik. Konsultasi selanjutnya dengan dr. Dian dan aku memutuskan untuk melahirkan dengan beliau. Aku juga konsultasi apakah ada masalah jika baru mulai konsultasi di usia kehamilan 37 minggu dan ingin melahirkan di sana. Beliau bilang gapapa karena riwayat kehamilanku pun tidak terlalu bermasalah. 

Akhirnya, tibalah saat-saat yang ditunggu-tunggu itu. Karena aku KPD (ketuban pecah dini)  dan kondisi sudah gawat janin, aku pun harus segera di operasi SC dirujuk ke RS terdekat tempat beliau praktik (cerita lengkapnya, cek dipostingan tentang cerita persalinan ya). Alhamdulillah, babyku Attaya lahir dengan sehat. Aku pun pulih dengan cepat.

Kesimpulan dari pengalaman aku cek dan konsultasi di beberapa dokter dan RS:

1. RS Bunda Margonda:

(+) Fasilitas lengkap banget, dokter-dokter banyak dan ok, staf ok, bisa BPJS/asuransi. (-) Harga mahal atau engga ini tergantung tiap orang ya, tapi dibandingkan RS Andika, Aulia, atau klinik BWCC di sini lebih mahal.

2. RSIA Andika:

(+) Fasilitas lengkap, terjangkau, bisa BPJS/asuransi. (-) Aku kurang cocok saat konsultasi

3. RS Aulia:

(+) Fasilitas lengkap, dokter ok, bisa BPJS/asuransi. (-) Suasana kurang nyaman karena sempit dan sedang renovasi, agak gelap,  antri

4. Klinik BWCC Jagakarsa

+) Suasana nyaman banget, homey, staf ramah, dokter-dokter ok (-) belum bisa asuransi/BPJS. Karena klinik, hanya untuk persalinan normal, jika ada tindakan dirujuk ke RS terdekat.

Untuk semua dokter yang pernah menangani aku, aku paling cocok dengan dr. Dian, karena itu aku pilih melahirkan dengan beliau. Ini subjektif ya, karena tiap ibu hamil berbeda kecocokannya. Kebetulan aku sreg sama beliau, bukan berarti dokter yang lain ga bagus.

Jadi, mau gonta-ganti RS atau dokter, aku rasa sah-sah aja. Tapi memang lebih baik jika konsisten pada satu dokter yang tau riwayat kehamilan kita, jikapun tidak cocok atau mau cari alternatif dokter/RS lain, bisa kok menceritakan/melaporkan ke dokter baru riwayat kehamilan kita untuk ditindaklanjuti setelahnya.

Semangat yaa para bumils di luar sana yang sedang menikmati masa kehamilannya! Untuk yang belum hamil semoga informasi ini sedikit bisa memberikan gambaran ketika hamil nanti! 😉

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top