Academic Life Parenting

Penjelasan Ilmiah Tentang Pemerolehan Bahasa Anak

“Udah usia segini, anakku telat ga sih bicaranya?”

Mungkin sebagian dari kita yang sudah menjadi mama, pernah terbesit pertanyaan di atas ketika 2 tahun pertama usia anak.  Perkembangan bahasa ini adalah salah satu aspek yang banyak dikhawatirkan karena banyak yang belum melihat tanda-tanda si kecil berbicara dengan lancar sebelum usia 2 tahun. Sebelum kekhawatiran berlanjut, ada baiknya kita memahami dulu bagaimana pemerolehan dan perkembangan bahasa yang terjadi pada bayi, sejak kemampuan hanya menangis ketika lahir , babbling, berbicara sepatah dua patah kata, hingga berbicara dengan kalimat yang kompleks.

Sebelum membahas kemampuan berbicara rata-rata anak sesuai umurnya (dibahas dalam Mean Language Utterance), kita perlu mengetahui terlebih dahulu apa itu pemerolehan bahasa (penjelasan-penjelasan yang ada dalam artikel ini adalah beberapa teori yang pernah Saya dapat ketika kuliah psikolinguistik pembahasan language development & language acquisition)

Istilah pemerolehan bahasa merupakan padanan dari bahasa Inggris, acquisition dan language, yakni proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu ia belajar bahasa ibunya (native language) (Dardjowidjojo, 2003: 225). Istilah pemerolehan berbeda dengan pembelajaran. Pemerolehan merupakan proses yang natural, sedangkan pembelajaran merupakan sesuatu yang dipelajari. Kedua hal ini sering disebut dengan nature dan nurture.  Apakah pemerolehan bahasa pada anak merupakan nature atau nurture mengalami perdebatan di antara banyak ahli. Kedua pendapat ini memiliki argumen masing-masing.

Para aliran behaviourisme mengatakan bahwa pemerolehan bahasa bersifat nurture, yang ditentukan oleh lingkungan. Skinner merupakan salah satu tokoh pada pandangan ini. Namun, Chomsky berpendapat bahwa pemerolehan bahasa bersifat nature, artinya anak sudah lahir dengan piranti pemerolehan bahasa. Berikut ini adalah pendapat mengenai pembelajaran bahasa menurut Chomsky, yang dikutip dari Dardjowidjojo.


…languange learning is not something that the child does; its something that happens to the child placed in the appropriate environment, much as the child’s body grows and matures in a predetermined way when provided with appropriate nutrition and enviromental stimuli”

Pada perkembangannnya, aliran Chomsky inilah yang banyak diikuti oleh para linguis. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa konsep dari nurture juga memengaruhi pemerolehan bahasa pada anak karena berhubungan dengan faktor lingkungan. Kesimpulannya, kedua faktor nature dan nurture ini dapat mempengaruhi perkembangan bahasa seseorang.

Dalam buku Psychology of Language, Caroll juga membahas the social context of preverbal infants. Jadi, terdapat prelingustic gesture atau isyarat pralinguistik pada anak sebelum melakukan komunikasi verbal. Selanjutnya, penjelasan pada bagian early phonology, dikatakan bahwa tahapan perkembangan produksi bahasa diawali dengan babbling atau mengoceh, dilanjutkan dengan ocehan yang berulang (reduplicated babbling) pada usia 6-7 bulan dan ocehan yang bervariasi (variegated babbling) pada usia 11-12 bulan.

Darmowidjojo juga mengatakan bahwa proses pemerolehan bahasa melalui tiga tahapan utama, yaitu fonologi, sintaksis dan semantik, namun dijelaskan juga tahap fonologi, sintaksis, leksikon, pragmatik. Dalam tahap fonologi, dikenal istilah babbling pada tahap usia enam bulan.

Menurut Brown, yang dikutip dari Fernandez dalam buku Fundamental of Psycholingustics, pemerolehan bahasa pada anak dimulai dengan fase-fase sebagai berikut.

Mean Language Utterance
(http://pubpages.unh.edu)

Tahap 1: 12-26 bulan: 1-2 ujaran
Tahap 2: 27-30 bulan: 2-2,5 ujaran
Tahap 3: 31-34 bulan: 2,5 – 3 ujaran
Tahap 4: 35-40 bulan: 3-3,75 ujaran
Tahap 5: 41-46 bulan: 3,75- 4,5 ujaran


Usia 12-24 bulan merupakan tahap ujaran satu kata pada anak one stage word, atau disebut holophrastic period. Holophrase adalah ucapan kata yang digunakan oleh anak untuk mengungkapkan lebih dari makna yang biasanya dihubungkan dengan kata tunggal oleh orang dewasa. Berikut ini adalah kutipan mengenai holophrase (Caroll, 2004)

A holophrase has been defined as a single word utterance that is used by a child to express more than the meaning usually attributed to that single word by adults (Rodgon, 1976).”

Sebagai contoh pada tahap pertama, yaitu holophrase, seorang anak dapat mengucapkan satu kata untuk maksud yang bermacam-macam. Misalnya, mengucapkan kata “papa” yang bermakna “itu papa” atau “papa ayo ke sini” ketika melihat ayahnya atau ketika mendengar seorang datang, dll. Padahal untuk orang dewasa, kata “papa” ini hanya memiliki makna tunggal, yaitu ayah sebagai kelas kata nomina.

Contoh lain, ketika kata “mam”, yang diujarkan anak dalam tahap holophrase dapat berarti mengutarakan keinginannya untuk makan, menunjukkan ada makanan di meja, atau hanya untuk menunjukkan bahwa “kucing sedang makan” ketika melihat seekor kucing yang sedang makan. Dengan kata lain, 1 kata digunakan untuk berbagai makna dan konteks.

Pada tahap selanjutnya, yaitu tahap II (27-30 bulan) secara umum anak dapat mengeluarkan 2-2,5 ujaran. Misalnya, “pus mam” yang berarti kucing sedang makan, atau “num puti” yang berarti aku mau minum air putih, dll. Tahap ini meningkat menjadi 2 ujaran untuk berbagai makna dan konteks.  Begitu selanjutnya hingga nanti anak dapat membuat kalimat dengan baik sesuai dengan tahapan dalam Mean Language Utterance.

Pemerolehan bahasa ini merupakan proses penguasaan bahasa yang dilakukan oleh anak secara natural pada waktu ia belajar bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa juga merupakan sebuah kejadian alamiah yang terjadi pada setiap anak, namun dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor alami maupun lingkungan. Secara keseluruhan, tahapan pemerolehan bahasa pada anak dimulai sejak lahir, yang diawali dengan isyarat pralinguistik. Setelah itu seiring perkembangannya anak akan mulai dapat bergumam atau mengoceh, lalu melewati tahap satu kata, dua kata, tiga kata dan seterusnya hingga membentuk kalimat yang kompleks.

Perlu diingat bahwa indikator MLU (Mean Language Utterance) di atas adalah kemampuan bahasa anak secara rata-rata. Setiap anak berbeda, terkadang lebih lambat atau lebih cepat tergantung faktor nature dan nurture yang telah dibahas sebelumnya. Selagi tidak melewati red flag perkembangan, tidak perlu khawatir dengan kemampuan berbahasa anak. 

Sumber Bacaan:

Carroll, David W. 2004. Psychology of Language. USA: Thomson Wadsworth.


Clark, Eve V. 2006. First Language Acquisition. Cambridge University Press


Dardjowidjojo, Soenjono. 2003. Psikolinguistik Pengantar Pemahaman Bahasa Manusia. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.


 Fernandez. 2007. Fundamental of Pshycholinguistics. UK: Wiley-Blackwell


O’ Grady William. 2005. How Children Learn Language. UK. Cambridge University Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top